Author’s POV :
Suasana pada
malam ini begitu dingin. Angin malam yang berhembus, perlahan bersentuhan
dengan kulit setiap manusia yang sedang berada diluar. Tampak di sebuah taman,
seorang gadis mungil sedang duduk sambil menangis menatap langit tanpa bintang.
Entah apa yang dipikirkannya, tapi ia nampak sangat begitu sedih. Ia hanya
seorang gadis yang lemah. Lalu mengapa ada orang yang tega menyakitinya? Tapi
entah mengapa bahkan disaat air matanya mulai keluar menatap dunia, ia masih
saja tetap terlihat manis. Apakah dia benar manusia?
Minah’s POV:
Hatiku sedang
dalam keadaan tidak baik. Aku hanya duduk terdiam sambil menatap langit yang
perlahan menandakan bahwa hujan akan turun. Aku baru mengerti bahwa betapa
tersiksanya merasa terluka. Ini cinta pertamaku, lalu mengapa Tuhan tak membuat
kisah yang indah untukku?
Bodohnya aku
sehingga dapat merasakan hal menjijikkan kepada pria itu. Aku bahkan tak tau
bahwa ternyata aku memiliki sifat serakah untuk memiliki pria itu seutuhnya.
Awalnya memang menyenangkan untuk merasakan detakan jantungku untuknya setiap
detik. Hal itu terkadang membuatku tersenyum seperti orang bodoh ketika mulai memikirkannya.
Tapi ternyata kisah indah tidak berpihak padaku. Hanya aku yang
mengharapkannya. Hanya aku yang berdetak untuknya. Hanya aku yang
memikirkannya. Tanpa pernah menganalisa bahwa ia memiliki gadis yang disukai.
Perlahan air yang
berasal dari awan mulai menetes. Setiap tetesannya mulai terasa lebih deras.
Akhirnya kini air mataku tidak mengalir sendirian. Dikala aku menikmati tiap
tetesnya turun, air hujan hujan
tiba-tiba berhenti membasahiku sementara disekitarku basah menikmati air hujan.
Aku mengangkat kepalaku berat dan melihat siapa yang berdiri di sebelahku.
“Bodoh! Mengapa
kau begitu bodoh membiarkan dirimu basah di tengah malam seperti ini? Apa kau
pikir namja itu akan berpaling padamu jika kau seperti ini?” mataku sulit untuk
menangkap wajah pemilik suara ini. Tapi suaranya memang sudah tidak asing lagi.
Suara sahabat kecilku.
“Gomawo, tapi aku
sudah terlanjur basah, jadi sudahlah”
Aku lalu berdiri
menjauh darinya, meratapi nasib yang Tuhan berikan. Kisahku bahkan belum
dimulai. Kisah yang selalu nampak indah dinovel-novel. Kisah cinta pertamaku.
Tetapi kisah itu telah berakhir seperti ini. Perlahan langkahku mulai berat.
Mataku tidak dapat menemukan titik fokusnya lagi. Tiba-tiba, aku merasakan
seseorang menangkap tubuhku yang tak seimbang.
“Kau sudah sangat
basah. Kulitmu mulai berkerut. Bibirmu mulai pucat. Dan kau tadi bahkan
kehilangan keseimbangan tubuhmu. Atau kau memang mau mati? Ayo pulang bersamaku
sebelum kau benar-benar menjadi mayat disini!” teriaknya.
Junseo’s POV:
Berulang kali aku
menelponnya tetapi tetap saja tak ada jawaban. Langkah dan pandanganku sedang
bekerja sama untuk mencari keberadaannya. Aku sudah berada di atas batas
khawatir karenanya. Jika ia menyukai orang yang salah dengan perasaan yang
tidak cukup untuk menjadikan orang tersebut miliknya, bukankah berarti orang
itu memang bukan diperuntukkan untuknya.
Seketika
langkahku terhenti. Pandanganku hanya terfokus pada seorang yeoja yang sedang
duduk menatap langit, sementara hujan telah membasahi tubuhnya. Apakah dia
gila? Bukankah sudah jelas bahwa aku ini takdirnya? Bahkan ketika Tuhan tidak
menciptakannya untukku, aku akan berusaha memperjuangkan agar dialah takdirku. Aku memang bukan lelaki yang baik. Aku
bahkan tidak tau cara memperlakukan seorang gadis. Tapi bisakah Tuhan, untuk
Kau membantuku memilikinya? Aku tak dapat menggambarkan perasaanku dengan
kata-kata, jadi bisakah Kau membantuku buat ia membaca perasaanku dengan jelas
tanpa rasa ragu?Bantu aku, agar kisah cintaku nampak mudah. Batinku dalam hati.
Aku lalu
melindungi tubuhnya yang basah dengan sebuah payung yang sedari tadi
melindungiku. Tubuhnya mulai nampak pucat dan bibirnya menggigil tersiksa
karena kedinginan. Matanya menunjukkan bahwa ia telah bekerja keras untuk
memproduksi air mata dalam kadar yang cukup banyak. Bahkan hanya melihatnya
saja sudah cukup membuat hatiku sakit. Sudah. Cukup. Tidak bisakah ia kini
mulai berpaling menatapku?
“Bodoh! Mengapa
kau begitu bodoh membiarkan dirimu basah di tengah malam seperti ini? Apa kau
pikir namja itu akan berpaling padamu jika kau seperti ini?”
“Gomawo, tapi aku
sudah terlanjur basah, jadi sudahlah” katanya dengan seuara bergetar. Ia nampak
rapuh. Terlalu rapuh. Seketika ia berjalan lalu kehilangan keseimbangannya.
Dengan sigap, aku langsung menangkap tubuhnya.
“Kau sudah sangat basah. Kulitmu mulai
berkerut. Bibirmu mulai pucat. Dan kau tadi bahkan kehilangan keseimbangan
tubuhmu. Atau kau memang mau mati? Ayo pulang bersamaku sebelum kau benar-benar
menjadi mayat disini!”
***
Author’s POV
Bel pertanda
kelas masuk mulai terdengar. Murid-murid berlarian masuk ke kelas. Tampak
seorang pria dengan badan tegap, alis tebal, dan hidung mancung yang dapat
membuat siapapun yang melihatnya jatuh hati itu memanggil Hongky.
“Junseo~ah,
apakah Minah tidak datang?”
“Tidak” jawab Junseo
tak peduli. Bagaimana mungkin ia masih tersenyum setelah membuat Minah seperti
orang bodoh semalam. “Maaf, tapi bisakah kau menjauh darinya? Sudah cukup untuk
semuanya”
“Apa maksudmu?
Kau bahkan tak punya hubungan apa-apa dengannya” tanyanya dengan raut wajah
bingung.
“Memang benar.
Tapi tetap. Jauhi saja dia. Karena aku tertarik padanya”
Perkataan Junseo
menutup percakapan mereka dan sesaat Jinguk songsaengnim juga telah memasuki
ruang kelas. Memang benar, hari ini akan sangat membosankan. Menatap materi
yang bahkan tidak ia mengerti dan hanya melihat bangku kosong dihadapannya
sambil berkhayal. Kira-kira apa yang sedang dilakukan gadis itu.
***
